Selasa, 04 Juli 2017

CERPEN



TENTANG DIA
Angin semilir membuat malam ini semakin dingin. Gelap dan terasa hampa. Rembulan menyinari seisi bumi yang sedang menikmati suasana malam. Jangkrik mengerik mengiringi petikan gitar yang tiada henti. Kepulan asap api unggun, letupan jagung bakar, dan suara jangkrik membuat suasana semakin ramai. Tapi, entah mengapa aku serasa sendiri. Tiada daya untuk menikmati malam keakraban (Makrab) kegiatan ekstra kampus yang ku ikuti.
“Apakah ini karena dia?” gumamku dalam hati, “ kenapa harus dia terus yang ada di benakku?, menjauhlah dari pikiranku.” Ku kedip-kedipkan mataku sambil menggeleng kecil.
Ku berusaha ikut bercanda kesana kemari, namun hatiku masih saja resah. Resah yang tak jelas arah ke resahannya. Harusnya aku mengantuk dan tidur aja. Tapi mata ini masih terjaga.
“Malam Aina....” sapanya. Dia meletakkan handphone dan duduk di depanku sambil menata gitarnya.
“Ha...?” jawabku sedikit kaget.
“Jreeeng..., baru dateng kamu? Kita tungguin dari tadi, ngapain aja baru dateng? Mesti nyolong keluar nih... hahaha...” ledek temannya sembari mendekati kita.
Huft... kirain langsung mau nyanyiin lagu buatku, e... ternyata dia malah asyik ngobrol sama temannya. Mereka ngobrol dengan bahasa asal mereka yang tentunya aku belum begitu paham bahasa mereka. Intinya mereka cerita tentang sepanjang perjalanan menuju lokasi.
“Ai... mau kemana? Sini aja! Maaf deh.. tak ganggu bentar, duduk lagi geh!” pinta temannya.
Aku yang awalnya mau meninggalkan mereka yang sedang asik ngobrol akhirnya kembali duduk di tempat semula. Dia mulai mencari nada dan menyanyi sambil memetik gitarnya. Dia mulai menyanyi, tepatnya lagu milik slank “Terlalu Manis”. Suara itu membuatku terlena karena lirik lagu yang menghangatkan jiwa. Aku pun ikut bernyanyi dan wajahku berseri bertanda aku bahagia saat ini.
Memang, betapa keras usaha dia supaya bisa dekat dan mengenalku lebih jauh. Mulai dari sering kirim puisi lewat sms, mengantarku pulang ketika selesai kegiatan, menungguku di pintu kampus, ngajak makan di luar, nongkrong bareng, dan masih banyak lagi.
Dan kali ini dia berusaha untuk bisa bertemu denganku di lokasi Makrab. Bayangin aja dibela-belain izin gak ikut kegiatan di ponpes, perjalanan ke lokasi kena tilang karna lupa gak bawa helm, kesasar sendirian serta nahan lapar :D
“gi... kesana yuk! Lama-lama kita gangguin Aina dan Rama” ajak Dana ke Yogi.
Dana dan Yogi adalah teman dekat Ramadhan, yang biasa kita sapa Rama. Mereka bertiga berteman dari awal menjadi mahasiswa. Kuliah satu fakultas dan satu jurusan.
“ Eh jangan pergi. Di sini aja, kita nyanyi bareng-bareng.” Tahan Rama
Dia itu pemalu, tiap kali deketin aku pasti ajak temannya. Wajah pemalu itu membuatku semakin tertarik padanya. Bagiku sifatnya mampu membuatku tersenyum dan semakin tertarik mengenalnya lebih dekat.
Tepatnya saat ada kegiatan ekstra kampus, awal ku melihat dia. Tanpa kenalan kita sudah saling tahu nama dan nomor handphone. Dari mana? Entahlah. Yang ku ingat Yogi dan Dana lah yang nyomblangin kita.
***
Pagi yang dingin di lokasi Makrab membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidur. Saat ku lihat handphone ternyata ada pesan dari Rama.
“ Ai... buruan sarapan trus ke aula!”
Dengan senyum yang merekah di wajahku, langsung deh ke kamar mandi, sarapan dan ikut gabung dengan yang lainnya di aula. Hari ini terakhir kita makrab. Sore nanti kita udah kembali ke kota, jadi seharian kita bisa keliling sekitar lokasi makrab.
 “Aina kita pnjem bentar ya?, bentar aja ntar tak balikin, boleh ya?” rayu Dana kepada teman-teman yang ada di sekelilingku.
“jangan diapa-apain loh!” wejangan mbak Afi
Aku meninggalkan teman-teman dan meikuti langkah Yogi dan Dana menuju ke bukit.
“Aina.. sampai sini aja ya.. kamu jalan terus aja, ok!”
Dengan jantung yang berdetak tak karuan aku mencoba jalan lurus menyusuri bukit. Aku berdiri tegak di belakang seorang laki-laki yang memakai syal.
“Nunggu Aina ya, mas...?”  sapaku kepada Rama.
Dia menoleh sambil tersenyum kepadaku. Entah mengapa jantungku jadi begini, sangat tak stabil.
“lama amat, Ai...”
“ya mana Aina tau klo ada yang nunggu”
“sini deh!”
Dia menarik tanganku dan menunjuk arah dengan jari telunjuknya.
“waow... keren ya.. pemandangannya bagus” kataku kagum
“klo di tempat kelahiranku gak ada yang seperti ini, Ai.. adanya banyak asap kendaraan”
“Makanya pindah di sini aja, sekalian bikin rumah di sini kalau perlu”
“hahaha... ada-ada aja kamu, turun yuk! Kita gabung sama yang lain”.
“Ha? Gitu aja, gak ngomong apa gitu... jiiaaah” gumamku dalam hati
Kita melangkah turun sambil berpegangan tangan. Dia hawatir kalau aku terpeleset atau jatuh, makanya digandeng. Di langkahnya yang kesekian, dia berhenti tiba-tiba.
“Tunggu bentar”
“Ada apa, mas...?”
“Aina.. dengerin aku bentar, aku mau ngomong sesuatu”
“i..i..iya...” jawabku terbata-bata.
Jantungku berdebar kencang. Kali ini sorot matanya kepadaku serasa beda. Rasanya tak sanggup untuk menatapnya lebih lama.
“Sejak kita ketemu sampai sekarang entah mengapa aku merasa nyaman sama Aina. Meski aku tahu banyak yang suka Aina, tapi aku juga merasa harus dekati Aina juga. Tentu kamu tahu hal itu, tanpa harus ku beritahu sebelumnya. Berbagai cara aku lakukan untuk bisa bertemu dan mendekatimu. Ya, meski teman-temanku lah yang selalu merencanakan pertemuan kita. Karena aku belum punya nyali yang kuat untuk ketemu secara personal sama kamu.” Terang Rama panjang sekali sehingga membuatku bingung harus ngomong apa. Dan dia pun diam sejenak, seolah meyakinkan dirinya dalam merangkai kata-kata.
“Rama... Rama suka sama Aina”
Jelas aku malah tambah bingung harus jawab apa. Meski ini adalah pernyataan bukan pertanyaan, tapi aku bingung harus ngomong apa. Jantungku benar-benar tak stabil. Pikirannku berusaha mencari kata-kata untuk mengungkapkan semua ini.
Sepanjang perjalanan turun kita bertemu teman-teman sehingga kita bisa turun rame-rame tanpa ada yang curiga klo kita pergi berdua.
Di aula Yogi dan Dana berusaha mengambil gambarku dengan ponsel mereka. Namun sepertinya gagal, karena aku selalu menutup wajahku dengan jaket yang ku sandarkan di bahuku.
Acara penutup sudah selesai, semua peserta memasuki kendaraan masing-masing, kecuali yang bawa kendaran sendiri.
“Rama... gimana? Sukses?” Tanya Dana
“Aku udah bicara sama Aina, sebelum kita turun dari bukit dia bilang sesuatu, yang mungkin kalian bisa menebaknya”
“Diterima kan?”
“Mas Rama... jujur, Hari-hariku begitu indah saat mengenalmu. Kita hampir tiap hari ketemu di kampus dengan pertemuan yang tak terduga sebelumnya. Serasa orang yang sedang jatuh cinta. Aku sangat  bahagia. Terlebih setiap malam kamu pasti kirim sebuah puisi. Tiap ada waktu senggang kamu pasti mengajakku keluar. Tiap aku diam kamu pasti membawa gitar, membuatku larut dalam petikan gitar. Tak dapat ku pungkiri kalau aku tertarik dengan kehadiranmu. Tapi maaf, bukan karena ada lelaki lain, tapi aku belum bisa menerimamu menjadi perempuan yang spesial, karena selama ini setiap ada teman-temanmu, kamu seperti hilang kendali, kamu lebih memilih mereka daripada aku. Dan itu yang sering terjadi. Aku tak bisa di tengah-tengah kalian. Aku ada, tapi seolah-seolah tak ada. Kalian selalu membahas hal yang tak pernah ku pahami, meski aku pelajari dan mencoba memahami apa yang kalian bicarakan, tapi tetap saja aku tak nyaman jika ada di tengah-tengah kalian” Rama menjelaskan kepada temannya secara detail, agar mereka tidak penasaran berkepanjangan apa yang sudah dikatakan Aina.
Peserta Makrab menuju kendaraan masing-masing. Sebelum aku masuk ke mobil, ku beranikan diri melangkah mendekati Rama.
“Mas Rama.... maafin Aina ya”
Dia membalasku dengan senyuman. Entah senyum apa yang dia selipkan di wajahnya. Aku berbalik arah menuju kendaraanku sambil menahan air mata.
“Rasa yang dia pendam selama ini sudah terluapkan. Sekarang giliranku memedam rasa sayangku kepadamu. Aina sayang mas Rama. Rasa ini akan Aina bawa sampai nanti. Maafkan Aina, mas Rama”
***

0 komentar:

Posting Komentar