TENTANG DIA
Angin semilir membuat
malam ini semakin dingin. Gelap dan terasa hampa. Rembulan menyinari seisi bumi
yang sedang menikmati suasana malam. Jangkrik mengerik mengiringi petikan gitar
yang tiada henti. Kepulan asap api unggun, letupan jagung bakar, dan suara
jangkrik membuat suasana semakin ramai. Tapi, entah mengapa aku serasa sendiri.
Tiada daya untuk menikmati malam keakraban (Makrab) kegiatan ekstra kampus yang
ku ikuti.
“Apakah ini karena dia?”
gumamku dalam hati, “ kenapa harus dia terus yang ada di benakku?, menjauhlah
dari pikiranku.” Ku kedip-kedipkan mataku sambil menggeleng kecil.
Ku berusaha ikut bercanda
kesana kemari, namun hatiku masih saja resah. Resah yang tak jelas arah ke
resahannya. Harusnya aku mengantuk dan tidur aja. Tapi mata ini masih terjaga.
“Malam Aina....” sapanya.
Dia meletakkan handphone dan duduk di depanku sambil menata gitarnya.
“Ha...?” jawabku sedikit
kaget.
“Jreeeng..., baru dateng
kamu? Kita tungguin dari tadi, ngapain aja baru dateng? Mesti nyolong keluar
nih... hahaha...” ledek temannya sembari mendekati kita.
Huft... kirain langsung
mau nyanyiin lagu buatku, e... ternyata dia malah asyik ngobrol sama temannya.
Mereka ngobrol dengan bahasa asal mereka yang tentunya aku belum begitu paham
bahasa mereka. Intinya mereka cerita tentang sepanjang perjalanan menuju
lokasi.
“Ai... mau kemana? Sini
aja! Maaf deh.. tak ganggu bentar, duduk lagi geh!” pinta temannya.
Aku yang awalnya mau
meninggalkan mereka yang sedang asik ngobrol akhirnya kembali duduk di tempat
semula. Dia mulai mencari nada dan menyanyi sambil memetik gitarnya. Dia mulai
menyanyi, tepatnya lagu milik slank “Terlalu Manis”. Suara itu membuatku
terlena karena lirik lagu yang menghangatkan jiwa. Aku pun ikut bernyanyi dan
wajahku berseri bertanda aku bahagia saat ini.
Memang, betapa keras usaha
dia supaya bisa dekat dan mengenalku lebih jauh. Mulai dari sering kirim puisi
lewat sms, mengantarku pulang ketika selesai kegiatan, menungguku di pintu
kampus, ngajak makan di luar, nongkrong bareng, dan masih banyak lagi.
Dan kali ini dia berusaha
untuk bisa bertemu denganku di lokasi Makrab. Bayangin aja dibela-belain izin gak
ikut kegiatan di ponpes, perjalanan ke lokasi kena tilang karna lupa gak bawa
helm, kesasar sendirian serta nahan lapar :D
“gi... kesana yuk!
Lama-lama kita gangguin Aina dan Rama” ajak Dana ke Yogi.
Dana dan Yogi adalah teman
dekat Ramadhan, yang biasa kita sapa Rama. Mereka bertiga berteman dari awal
menjadi mahasiswa. Kuliah satu fakultas dan satu jurusan.
“ Eh jangan pergi. Di sini
aja, kita nyanyi bareng-bareng.” Tahan Rama
Dia itu pemalu, tiap kali
deketin aku pasti ajak temannya. Wajah pemalu itu membuatku semakin tertarik
padanya. Bagiku sifatnya mampu membuatku tersenyum dan semakin tertarik
mengenalnya lebih dekat.
Tepatnya saat ada kegiatan
ekstra kampus, awal ku melihat dia. Tanpa kenalan kita sudah saling tahu nama
dan nomor handphone. Dari mana? Entahlah. Yang ku ingat Yogi dan Dana lah yang
nyomblangin kita.
***
Pagi yang dingin di lokasi
Makrab membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidur. Saat ku lihat
handphone ternyata ada pesan dari Rama.
“ Ai... buruan sarapan
trus ke aula!”
Dengan senyum yang merekah
di wajahku, langsung deh ke kamar mandi, sarapan dan ikut gabung dengan yang
lainnya di aula. Hari ini terakhir kita makrab. Sore nanti kita udah kembali ke
kota, jadi seharian kita bisa keliling sekitar lokasi makrab.
“Aina kita pnjem bentar ya?, bentar aja ntar
tak balikin, boleh ya?” rayu Dana kepada teman-teman yang ada di sekelilingku.
“jangan diapa-apain loh!”
wejangan mbak Afi
Aku meninggalkan
teman-teman dan meikuti langkah Yogi dan Dana menuju ke bukit.
“Aina.. sampai sini aja
ya.. kamu jalan terus aja, ok!”
Dengan jantung yang
berdetak tak karuan aku mencoba jalan lurus menyusuri bukit. Aku berdiri tegak
di belakang seorang laki-laki yang memakai syal.
“Nunggu Aina ya,
mas...?” sapaku kepada Rama.
Dia menoleh sambil
tersenyum kepadaku. Entah mengapa jantungku jadi begini, sangat tak stabil.
“lama amat, Ai...”
“ya mana Aina tau klo ada
yang nunggu”
“sini deh!”
Dia menarik tanganku dan
menunjuk arah dengan jari telunjuknya.
“waow... keren ya..
pemandangannya bagus” kataku kagum
“klo di tempat kelahiranku
gak ada yang seperti ini, Ai.. adanya banyak asap kendaraan”
“Makanya pindah di sini
aja, sekalian bikin rumah di sini kalau perlu”
“hahaha... ada-ada aja
kamu, turun yuk! Kita gabung sama yang lain”.
“Ha? Gitu aja, gak ngomong
apa gitu... jiiaaah” gumamku dalam hati
Kita melangkah turun
sambil berpegangan tangan. Dia hawatir kalau aku terpeleset atau jatuh, makanya
digandeng. Di langkahnya yang kesekian, dia berhenti tiba-tiba.
“Tunggu bentar”
“Ada apa, mas...?”
“Aina.. dengerin aku
bentar, aku mau ngomong sesuatu”
“i..i..iya...” jawabku terbata-bata.
Jantungku berdebar
kencang. Kali ini sorot matanya kepadaku serasa beda. Rasanya tak sanggup untuk
menatapnya lebih lama.
“Sejak kita ketemu sampai
sekarang entah mengapa aku merasa nyaman sama Aina. Meski aku tahu banyak yang
suka Aina, tapi aku juga merasa harus dekati Aina juga. Tentu kamu tahu hal
itu, tanpa harus ku beritahu sebelumnya. Berbagai cara aku lakukan untuk bisa
bertemu dan mendekatimu. Ya, meski teman-temanku lah yang selalu merencanakan
pertemuan kita. Karena aku belum punya nyali yang kuat untuk ketemu secara
personal sama kamu.” Terang Rama panjang sekali sehingga membuatku bingung
harus ngomong apa. Dan dia pun diam sejenak, seolah meyakinkan dirinya dalam
merangkai kata-kata.
“Rama... Rama suka sama
Aina”
Jelas aku malah tambah bingung
harus jawab apa. Meski ini adalah pernyataan bukan pertanyaan, tapi aku bingung
harus ngomong apa. Jantungku benar-benar tak stabil. Pikirannku berusaha
mencari kata-kata untuk mengungkapkan semua ini.
Sepanjang perjalanan turun
kita bertemu teman-teman sehingga kita bisa turun rame-rame tanpa ada yang
curiga klo kita pergi berdua.
Di aula Yogi dan Dana
berusaha mengambil gambarku dengan ponsel mereka. Namun sepertinya gagal,
karena aku selalu menutup wajahku dengan jaket yang ku sandarkan di bahuku.
Acara penutup sudah
selesai, semua peserta memasuki kendaraan masing-masing, kecuali yang bawa
kendaran sendiri.
“Rama... gimana? Sukses?”
Tanya Dana
“Aku udah bicara sama
Aina, sebelum kita turun dari bukit dia bilang sesuatu, yang mungkin kalian
bisa menebaknya”
“Diterima kan?”
“Mas Rama... jujur, Hari-hariku
begitu indah saat mengenalmu. Kita hampir tiap hari ketemu di kampus dengan
pertemuan yang tak terduga sebelumnya. Serasa orang yang sedang jatuh cinta. Aku
sangat bahagia. Terlebih setiap malam
kamu pasti kirim sebuah puisi. Tiap ada waktu senggang kamu pasti mengajakku
keluar. Tiap aku diam kamu pasti membawa gitar, membuatku larut dalam petikan
gitar. Tak dapat ku pungkiri kalau aku tertarik dengan kehadiranmu. Tapi maaf,
bukan karena ada lelaki lain, tapi aku belum bisa menerimamu menjadi perempuan
yang spesial, karena selama ini setiap ada teman-temanmu, kamu seperti hilang
kendali, kamu lebih memilih mereka daripada aku. Dan itu yang sering terjadi. Aku
tak bisa di tengah-tengah kalian. Aku ada, tapi seolah-seolah tak ada. Kalian
selalu membahas hal yang tak pernah ku pahami, meski aku pelajari dan mencoba
memahami apa yang kalian bicarakan, tapi tetap saja aku tak nyaman jika ada di
tengah-tengah kalian” Rama menjelaskan kepada temannya secara detail, agar
mereka tidak penasaran berkepanjangan apa yang sudah dikatakan Aina.
Peserta Makrab menuju
kendaraan masing-masing. Sebelum aku masuk ke mobil, ku beranikan diri
melangkah mendekati Rama.
“Mas Rama.... maafin Aina
ya”
Dia membalasku dengan
senyuman. Entah senyum apa yang dia selipkan di wajahnya. Aku berbalik arah
menuju kendaraanku sambil menahan air mata.
“Rasa yang dia pendam selama
ini sudah terluapkan. Sekarang giliranku memedam rasa sayangku kepadamu. Aina
sayang mas Rama. Rasa ini akan Aina bawa sampai nanti. Maafkan Aina, mas Rama”
***


0 komentar:
Posting Komentar